Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2022

Merdeka Belajar

Merdeka belajar yang diutarakan mendiknas, merupakan hasil baca Nadiem Makarim pada bangsa ini yang diam ditempat, tak berani melompat menuju kemajuan. Menyuarakan hilangkan feodalisme pendidikan yang disampaikan oleh Rocky Gerung, merupakan buah pikir Rocky Gerung pada bangsa ini karena selama ini kita tidak bebas berfikir. Murid diam dikelas mendengarkan tanpa berani bicara sehingga pikiran kita mandek, IQ kita tidak terakumulasi. Dan itulah kenyataan pendidikan yang bangsa kita alami. IQ yang tidak terakumulasi, karena tidak digunakan untuk berfikir. Mandek. Tidak berani bebas berfikir karena terhambat semua feodalisme yang mengukung negeri. Penempatan penghormatan yang salah pada yang tua, pada yang lebih dulu belajar padahal belum tentu benar. Karena kebenaran tidak mutlak, untuk itulah kita perlu belajar. Karena belajar bukan hanya sekedar mendapat informasi lalu diam mendengarkan dengan melipat tangan. Feodalisme menjadikan jiwa kita tidak merdeka sehingga tidak berani bermimpi ...

Kartini dan Feodalisme

Hari itu, saya sangat gelisah. Pikiran saya terus bertarung sendiri antara banyaknya keraguan dan banyaknya keinginan untuk menembus sesuatu hal yang tidak pernah bisa ditembus di dalam negeri ini, feodalisme. Satu kata yang membuat kita mandek berfikir. Berhenti berfikir. Satu kata yang membuat kita berhenti maju. Berhenti mencoba untuk menjadi lebih baik. Feodalisme. Hari itu saya ragu untuk menunjukan pikiran saya kepada kenalan saya yang lebih tua, sangat jauh umurnya dengan saya, lebih senior, laki-laki pula, untuk menyampaikan bahwa menurut saya harusnya tidak seperti itu cara berfikirnya, menurut saya harusnya seperti ini cara berfikirnya, menurut saya harusnya jangan begitu cara penyelesaiannya, tapi saya ragu. Keinginan saya untuk menyampaikan cara pandang saya terhenti karena selubung feodalisme yang membuat saya khawatir saya disebut kurang ajar, tidak sopan, sok berfikir. Feodalisme menggerogoti semua keberanian saya. Lalu akhirnya saya terkungkung dalam feodalisme. Begitu ...

Perempuan Dulu dan Kini

Perempuan tua itu duduk bersandar di bangku terasnya yang juga tua. Ia mencoba meluruskan kakinya yang sudah tak lurus lagi. Nafasnya turun naik dengan berat, seberat beban hidupnya selama ini. Hidup yang penuh dengan keringat dan air mata. Hidup yang sepi dari tawa, hingga tawa tak lagi mampu singgah diwajahnya. Yang mencoba menyapa dengan tersenyum padanya pun tak kan menemukan senyuman balasan. Senyumnya telah hilang, tawanya sudah lenyap. Perempuan baya itu mencoba merenung, mengingat perjalanan hidupnya. Menikah muda lalu mendapati suami yang tidak menafkahinya. Bukan suami yang tidak punya uang yang ia rutuki, tapi suami yang tidak bertanggungjawab yang ia sesali. Tak ber-uang dengan tak bertanggungjawab adalah hal yang berbeda. Buktinya ia juga tak ber-uang, tapi ia bertanggungjawab dengan anak-anaknya. Anak-anak yang membuatnya mau dan mampu untuk terus bertahan dan berjuang menghidupi mereka dengan memberikan mereka sesuap nasi untuk bisa berdiri dan selembar kertas agar bisa ...

Mental Haimanah

Dari sekian banyak budaya dan aturan tertua dan terbesar di dunia, budaya Chinalah salah satu yang masih berdiri hingga kini. Budaya dan aturan adalah komponen untuk berkuasa, sayangnya kini China tidak berkuasa. Padahal pecinan dimana-mana, padahal barongsai menari dimana-mana. China pernah berkuasa ketika raja yang bertahta memiliki mental melindungi dan mengayomi, dan saat itu masyarakatnya juga memiliki mental mengayomi. Khilafah pernah bersentuhan dengan kekuasaan China. Dan saat itu yang membuat China tetap besar bersama dengan kebesaran Khilafah adalah sama-sama memiliki mental mengayomi dan melindungi, mental haimanah. Jepang sebelumnya pernah memulai dengan berusaha menguasai Asia dan menciptakan ikon hero pelindung dunia. Ikon hero Jepang mungkin terpatri dalam dada pemuda Asia, tetapi itu hanya sebatas hayalan. Tidak dengan negara pencitra ikonnya. Amerika dan Eropa juga berusaha menjadi  pengayom bagi masyarakat dunia, pengatur dunia, dan pelindung dunia. Mental mengayo...

Islam, Nasionalis, dan Pancasila

Melihat Natsir, membuat kita berkaca, inilah Indonesia, inilah pertarungan ideologi yang terjadi diawal pembentukan negara ini. Natsir memiliki keakraban dengan demokrasi barat yang selalu ditutupi kalangan Islam garis keras, namun juga memiliki sikap yang tegas dalam berislam yang juga berusaha dilupakan para Islam moderat. Pluralisme adalah hal yang biasa di Indonesia. Itu salah satu hal utama yang harus kita tanamkan di Indonesia, dulu, kini dan nanti. Seperti halnya Natsir, yang sebelumnya memiliki semangat yang menggebu-gebu terhadap nasionalisme. Namun akhirnya berbalik arah dan menjadi keras dalam ber-Islam, tidak lain karena kekecewaannya terhadap sebagian para nasionalis yang ternyata suka mencaci Islam. Walaupun pada dasarnya Natsir memahami bahwa politik idenditas tidak di atas segalanya, sehingga menjadi biasa baginya duduk minum kopi bersama D.N. Aidit digedung parlemen. Ini patut menjadi pelajaran untuk kita dimasa sekarang. Bahwa politik idenditas tak bisa diartikan hany...

Ilmu dan Kebenaran

Mencoba terus memahami, entah apa yang bisa dibanggakan ketika ada yang menggaungkan ilmu dan kata kebenaran. Saya jadi teringat seorang guru pernah berkata bahwa cara dia mengaji sebagai seorang ikhwan adalah dengan mabit di rumah ustaz lalu mencatat dengan jelas semua yang disampaikan dan dilakukan ustaz, bahkan dehem ustaz di catat. Tanpa ragu dan tanpa bumbu. Besoknya lalu disampaikan ke murid dibawahnya, persis seperti yang disampaikan ustaznya. Begitulah mengaji, kata guru saya. Saya terkesima dengan kehati-hatian menjaga penyampaian ilmu tersebut. Menyampaikan ilmu nyatanya tidak semudah ucapan hanya tinggal sampaikan. Perlu penjagaan. Perlu orang yang memang penjaga. Ingatan saya terlintas perihal cucu Rosulullah.  Hasan putra Fatimah yang terbunuh. Siapa yang membunuhnya, tidak ada yang tahu. Masih tekateki hingga hari ini. Nyatanya kebenaran tak selalu terungkap. Ilmu dan kebenaran adalah hal yang nyatanya tidak pernah mutlak.

Tidak Perlu Sibuk Mengklarifikasi

Zaman Islam penuh perubahan dan perjuangan yang sarat makna dan selalu kita jadikan pelajaran bersama adalah zaman Umar bin Khatab. Zaman dimana orang tahu bahwa dia bekerja untuk Allah. Orang tahu dia tidak mementingkan keluarganya sampai keluarganya juga mau untuk melepaskan segalanya lalu berjihad di jalan Allah. Zaman yang keluarganya disorot karena menyerahkan harta untuk negara adalah zaman Umar bin Khatab. Dan zaman dimana seorang khalifah seorang pemimpin tertinggi yang mengangkat beras dengan pundaknya sendiri menggotongnya untuk rakyatnya adalah zaman Umar bin Khatab. Zaman Islam yang fenomenal. Zaman salah satu khilafah Islam. Singanya padang pasir. Berjuang hanya untuk Allah. Namun, tahukah kita bagaimana perasaan sebagian umat saat Umar memerangi kaum muslim yang tidak mau bayar zakat. Diperangi dengan fisik, karena tidak sedikit yang mangkir membayar zakat. Perang sebenarnya. Jika kita menerka, mungkinkah Umar populer dengan sikapnya tersebut? Jika menelaah, Umar populerk...

PEREMPUAN

Perempuan dan Ekonomi Dua dari tiga program unggulan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak adalah mengakhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak, dan mengakhiri kesenjangan ekonomi. Salah satu turunan dari program mengakhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak adalah memastikan setiap calon TKW mendapatkan pelatihan yang memadai.[1] Mari kita pahami bersama, bahwa dalam kaca mata pemerintah perempuan adalah asset untuk perekonomian. Ini menyatakan bahwa pemerintah beranggapan perempuan tidak boleh diperdagangkan akan tetapi boleh ‘menjual dirinya’ jika dia punya keahlian sebagai TKW. Oleh sebab itu pemerintah memperhatikan bahwa keahlian bagi TKW adalah hal penting yang perlu disiapkan. Lantas apa bedanya? Toh tetap memperdagangkan perempuan, hanya bedanya punya keahlian. Keahlian sebagai pembantu rumah tangga khususnya. Kita tidak banyak menemukan persiapan secara khusus oleh pemerintah untuk pengiriman tenaga kerja ke luar negeri bagi perempuan kecuali sebagai pembantu ruma...