Kartini dan Feodalisme

Hari itu, saya sangat gelisah.

Pikiran saya terus bertarung sendiri antara banyaknya keraguan dan banyaknya keinginan untuk menembus sesuatu hal yang tidak pernah bisa ditembus di dalam negeri ini, feodalisme.

Satu kata yang membuat kita mandek berfikir.

Berhenti berfikir.

Satu kata yang membuat kita berhenti maju. Berhenti mencoba untuk menjadi lebih baik.

Feodalisme.


Hari itu saya ragu untuk menunjukan pikiran saya kepada kenalan saya yang lebih tua, sangat jauh umurnya dengan saya, lebih senior, laki-laki pula, untuk menyampaikan bahwa menurut saya harusnya tidak seperti itu cara berfikirnya, menurut saya harusnya seperti ini cara berfikirnya, menurut saya harusnya jangan begitu cara penyelesaiannya, tapi saya ragu.

Keinginan saya untuk menyampaikan cara pandang saya terhenti karena selubung feodalisme yang membuat saya khawatir saya disebut kurang ajar, tidak sopan, sok berfikir.

Feodalisme menggerogoti semua keberanian saya.

Lalu akhirnya saya terkungkung dalam feodalisme.

Begitu juga dengan bangsa ini.


Hari itu, saya sangat tidak tenang.

Bergejolak hati saya ingin menyampaikan pandangan saya kepada beberapa orang yang ada di depan saya, ada yang berpeci sangat tinggi, ada yang berjubah nampak mahabesar, ada yang berpenutup sangat rapat dan panjang, saya ragu, saya merasa kecil, rendah, tidak berarti apa-apa, untuk sekedar menyampaikan kepada yang maha tersebut bahwa janganlah seperti itu.

Keinginan saya untuk menyampaikan hati nurani saya terhenti karena selubung feodalisme yang membuat saya khawatir disebut liberal, ateis, kafir.

Feodalisme menggerogoti akal saya.

Lalu akhirnya saya terkungkung dalam feodalisme.

Begitupun negeri ini.


Perempuan, lebih muda, tidak berjubah, tidak bertitel, tidak berungguh-anggah, selalu berada dalam kungkungan feodalisme.

Sehingga sampai hari ini membuat kita tidak pernah bisa maju.

Membuat bangsa kita selalu kembali ke belakang.

Membuat negara ini tidak pernah besar.


Menerobos kebebasan berfikir, menerobos kebebasan berpendapat, di depan kelas, di depan guru, di depan pimpinan, di depan pemuka, di depan hulu, di depan suami, tidak pernah bisa terjadi di negara yang katanya demokrasi ini.

Kita tidak pernah benar-benar "menikmati demokrasi". Kita tidak pernah benar-benar bebas.

Kita selalu dalam kungkungan feodalisme.


Dalam rangka memperingati Hari Kartini, mari kita sama-sama menjadikan hari ini sebagai titik berangkat kita untuk mulai membuka diri.

Membiarkan akal kita berjalan.

Membiarkan semua orang berbicara.

Membiarkan semua orang berperan.

Begitu juga dengan perempuan.


Dibuat dalam rangka memperingati Hari Kartini, 21 April 2021.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Overthinking

Nyaman

"Kurang Lebih" dan Politik