Overthinking
Di akhir pekan kemarin saya membuka media sosial, lalu sampailah saya pada sebuah kuis iseng yang diajukan salah satu akun yang saya ikuti, katanya, pagi ginih lagi apa, sarapan, olahraga atau lagi sibuk overthinking?...
Saya berfikir setelah membacanya, bahkan untuk overthinking
pun kita sengaja meluangkan waktu layaknya aktivitas sarapan untuk mengisi
perut atau olahraga untuk kesehatan.
Tapi kalau kita renungkan lagi, nyatanya memang overthinking
adalah hal yang dialami oleh banyak orang, entah itu overthinking terhadap
mantan, overthinking terhadap gebetan, overthinking terhadap tetangga, overthinking terhadap saudara, atau overthinking
terhadap teman.
Contohnya overthinking terhadap teman.
Apakah akan berbeda dengan overthinking lainnya, nyatanya
sama saja. Sama-sama over.
Tidak diajak nongkrong overthinking, diajak nongkrong
overthinking takut kalau dianggap satu kubu.
Overthinking yang mungkin juga terjadi adalah dalam teman
politik.
Satu partai tidak diajak kumpul overthinking. Beda partai
padahal selalu sejalan selama ini lalu tetiba tidak diajak nongkrong lebih overthinking
lagi.
Mungkin overthinking juga dialami para pendiri kita dulu,
misalnya overthinking yang dialami oleh Nasution ketika Piagam Banteng menuntut kabinet Juanda
dibubarkan. Dia tidak diajak ketika tuntutan-tuntutan terhadap pemerintah pusat
diajukan. Karena tidak diajak lalu Nasution justru mengarahkan
pertemuan-pertemuan tuntutan tersebut diselesaikan dengan kekerasan meski presiden
Soekarno dan perdana menteri Djuanda menolak cara kekerasan. Tuntutan baik-baik
dijawab dengan kekerasan yang akhirnya malah berujung pendirian negara baru
yang tidak pernah ada dalam agenda. Akibat overthinking, misal ya.
Overthinking yang mengakibatkan korban tak berdosa ribuan
orang.
Overthinking dalam politik akan terus terjadi nampaknya.
Karena keputusan
mereka akan berefek terhadap rakyat banyak.
Sangat disayangkan terlebih jika memakan korban.
Untuk itu mungkin para teman politik tersebut harus sedikit melawan diri, melepaskan ego,
agar tidak overthinking, apalagi overthinking terhadap teman politik.
Sehingga persatuan akan selalu kita raih.
Masih dalam bulan kemerdekaan, 17 Agustus 1945 - 17 Agustus
2023, tetapkah merdeka, tetaplah bersatu.
Komentar
Posting Komentar