"Kurang Lebih" dan Politik
Belum lama ini ada percakapan antara Bianco dan bapaknya;
Bianco: Bi, aku mau beli buku kurleb..
Abi: buku apaan tuh?
Bianco: Disuruh sama guru matematika, buku kurang lebih, Bi!
Abi: astaga, istilah jaman dulu bgt kamu hehe
Lalu dibelilah buku itu oleh bapaknya Bianco.
Beberapa waktu kemudian Bianco minta dibelikan buku lagi:
Bianco: Bi, aku mau beli buku..
Abi: buku apa?
Bianco: The power 48 laws.
Abi: Disuruh sekolah?
Bianco: ga, aku pengen sendiri...
Abi: (antusias) buku tentang apa?
Bianco: tentang politik..
Abi: (langsung meredup) ga mau ah!
Bunda: bahasa Inggris y, Nak?
Bianco: Iya, Bunda.
Bunda: wih (langsung menengok ke Abinya)...
Abi: Kalau kamu mau beli buku kurleb (dibaca matematika) baru aku beliin!!
Secara ya bapaknya orang sains senanglah dia membelikan buku matematika untuk anaknya.
Lalu saya sempat mengecek buku the power tersebut, ternyata perlu arahan membacanya, saya yang merasa sudah memasuki dunia politik saja, anggap lah begitu ya, dan sudah mengalami beberapa hal seperti yang ada di buku itu, atau yang lebih dekat seperti apa yang di lagukan oleh Iwan Fals salah satunya dengan judul Opiniku, ternyata setelah membaca sinopsis nya agak ngeri juga buku tersebut. Meski memang seperti itulah politik (dibaca perang). Kalau kata Viru di 3idiots, semuanya adil dalam cinta dan perang.
Dan kengerian akan buku tersebut, membuat saya jadi berfikir tentang dulu dengan kekinian, dulu buku adalah jendela dunia bagi kita atau saya yang usianya 40 tahun ke atas. Membaca buku membuat kita membuka mata hati dan pikiran kita. Dengan membaca membuat kita seakan bisa melihat apa yang belum kita lihat.
Kini, jendela dunia anak adalah gadget nya, jendela dunia nya di alat komunikasi nya yang isinya tidak hanya alat komunikasi tapi segala hal, segala dunia.
Bianco yang mendapatkan buku the power adalah keunggulan politik dan bahasa Inggris yang kebetulan Bianco dapatkan setelah menggunakan gadget.
Kekhawatiran saya dengan bacaan Bianco yang awalnya dia dapat dari gadget seperti nya tidak jauh berbeda dengan kekhawatiran saya dulu ketika membaca. Saya dulu senang membaca tapi takut salah membaca.
Saya dulu senang membaca, apa saja, sampai saya menemukan bacaan yang ternyata bukan diperuntukkan untuk saya, dalam ukuran apapun. Lalu saya berfikir mungkinkah ada yang terjerumus dengan salah membaca buku, mungkin saja, karena buku adalah pembuka mata hati pembuka pikiran.
Begitu pun saat ini, kekhawatiran kita akan anak dengan gadgetnya, kalau menurut saya, sama seperti buku, layaknya sisi mata uang, mencerahkan juga mengkhawatirkan.
Dulu orangtua sepertinya senang-senang saja anaknya membaca buku, padahal tidak semua buku bisa dibaca.
Sekarang orangtua berbeda, rata-rata tidak senang anaknya memegang gadget.
Sehingga tercetuslah pembatasan gadget oleh pemerintah.
Namun menurut saya tidak akan mudah membatasi gadget, sama seperti kita dulu membatasi bacaan.
Membiarkan anak senang membaca apapun, sama seperti membiarkan anak membuka apapun di gadgetnya, kurang lebih lah ya.
Membatasi anak membaca sama seperti membatasi anak menggunakan gadget.
Begitu kira-kiralah ya..
Saya dulu mengenalkan Bianco dengan gadget di usia yang sangat dini, saya harus bekerja dan harus memberikan Bianco gadget agar dia tenang. Yang dia tonton itu-itu saja, lagunya Cleopatra Stratan yang di rekomendasikan oleh TanteLa, atau huruf, angka dan Upin Ipin yang di rekomendasikan oleh Bundanya.
Dan dengan algoritma, membuat tontonan Bianco akan seputar tersebut, film lebih ke Film anak Malaysia, misalkan. Begitulah gadget bekerja. Oleh sebab itu pembatasan bisa dilakukan jika anak dan atau orangtua tidak memulai tontonan yang lain.
Pembatasan gadget juga bisa dilakukan jika anak ada di depan mata kita saja, begitu pun dengan buku ya.
Jika anak sudah besar, bergaul dengan banyak orang, yang tidak bisa kita batasi, karena tidak mungkin juga anak kita akan selalu berada di bawah ketiak kita, karena ia akan tumbuh besar dan perlu belajar atau secara tidak sengaja mengenal dunia, pembatasan terbaik adalah mengajarkannya batasan sendiri secara agama, secara usia, secara mental.
Mengajarkan bahwa di dalam agama ada yang di larang, bahwa usia sekian belum waktunya mengetahui, bahwa dengan mental yang seperti apa membaca atau mengetahui hal tertentu atau tidak perlu tahu, yang mungkin akan membuat mental shock (terkesima/terperangah).
Setelah itu pembatasan yang paling penting adalah doa orangtua nya yang tiada henti untuk anak.
Semoga anak-anak kita dilindungi oleh Allah SWT dari segala fitnah dunia.
Komentar
Posting Komentar