Nyaman
Belum lama ini ada yang lewat di short saya yang berisi obrolan artis, salah satu artis bercerita bahwa dia sebelumnya pernah diterima di sekolah favorit namun tidak diambilnya, karena dia berfikir siapa yang nanti akan mengantarnya ke sekolah favorit yang posisinya jauh dari rumahnya tersebut.
Di short yang sama dia juga bercerita bahwa dia dan ibunya pernah menyurvei rumah di daerah kota mandiri. Mereka sepakat rumah tersebut bagus, tapi tidak jadi mereka ambil karena ibunya berfikir kalau mereka tinggal di rumah tersebut siapa nanti yang akan dimintakan tolong untuk membawakan galon ke dapur yang ada di ujung rumah besar itu, tetangga saja jarang kelihatan.
Artis itu ingin menyampaikan bahwa sebuah kenyamanan adalah pilihan.
Dan pilihan kenyamanan itu berbeda setiap orangnya. Ada yang berfikir kemewahan dan individualis adalah kenyamanan tapi ada yang berfikir kenyamanannya adalah kesederhanaan.
Kalau secara filosofis, Rocky Gerung menyebutnya liberalisme.
Kalau bahasa kita demokrasi.
Rocky Gerung mencontohkan, Orang yang duduk di bangku reyot di pinggir jalan yang berdebu sambil minum kopi dengan gelas plastik, bisa jadi kenyamanannya adalah hal tersebut, bukan mobil mewah yang melintas di depannya.
Begitupun dengan pekerjaan.
Beberapa tahun belakangan kita mendengar lagu zona nyaman yang menyebutkan bahwa orang yang bekerja seperti sapi perah menurut mereka tidak nyaman, nyatanya, yang bekerja tidak dengan sistem belum tentu merupakan zona nyaman buat mereka yang memang passionnya bekerja harus dengan atau didalam sistem.
Nyatanya memang kenyamanan adalah pilihan.
Jadi tidak perlu kita menilai kenyamanan oranglain. Karena kenyamanan kita bisa jadi juga bukanlah nyamannya oranglain.
Komentar
Posting Komentar