Perempuan Dulu dan Kini

Perempuan tua itu duduk bersandar di bangku terasnya yang juga tua.

Ia mencoba meluruskan kakinya yang sudah tak lurus lagi.

Nafasnya turun naik dengan berat, seberat beban hidupnya selama ini.

Hidup yang penuh dengan keringat dan air mata.

Hidup yang sepi dari tawa, hingga tawa tak lagi mampu singgah diwajahnya.

Yang mencoba menyapa dengan tersenyum padanya pun tak kan menemukan senyuman balasan.

Senyumnya telah hilang, tawanya sudah lenyap.

Perempuan baya itu mencoba merenung, mengingat perjalanan hidupnya.

Menikah muda lalu mendapati suami yang tidak menafkahinya.

Bukan suami yang tidak punya uang yang ia rutuki, tapi suami yang tidak bertanggungjawab yang ia sesali.

Tak ber-uang dengan tak bertanggungjawab adalah hal yang berbeda.

Buktinya ia juga tak ber-uang, tapi ia bertanggungjawab dengan anak-anaknya.

Anak-anak yang membuatnya mau dan mampu untuk terus bertahan dan berjuang menghidupi mereka dengan memberikan mereka sesuap nasi untuk bisa berdiri dan selembar kertas agar bisa berpendidikan melebihi dirinya.

Dan kini di usia senjanya Ia sudah lelah, ia ingin berhenti bertenggang.

Bertenggang rasa, bertenggang daya. 

Lebih baik berpisah daripada tidak sama sekali.

Lebih baik Ia mulai menghargai dirinya sendiri.


Ditempat lain, perempuan muda yang terus sibuk bekerja dirumah, terus berdedikasi.

Untuk suami dan keluarganya.

Juga bekerja diluar rumah untuk membantu keperluan rumahnya, namun nyatanya malah menopang keluarganya.

Berlarian setiap hari dengan hati yang lelah dan jiwa yang sepi.

Namun ia terus berlari, tak boleh berhenti, tak bisa jeda sebentar saja.

Ia harus terus berlari.

Demi apa Ia terus berlari, Ia mulai tak tahu. 

Ia kini mulai tak bisa membaca dirinya sendiri, juga oranglain.

Ia mulai kehilangan dirinya.

Hatinya mulai kebas.

Tak perlu lagi cinta.

Tak perlu lagi rasa.

Bukan, bukan berlarian yang ia keluhkan.

Tapi tak dicinta yang ia tangisi.


Waktu terus berjalan, tapi nasib perempuan tak banyak berubah.

Dua perempuan diatas sangat umum terjadi.

Perempuan yang mencinta tapi tak dicinta.

Perempuan yang menghargai tapi tak dihargai.

Perempuan yang terus berusaha lebih baik tapi tak juga dianggap baik.


Dibuat dalam rangka Hari Perempuan Sedunia, 8 Maret 2021.

Mari jadikan perempuan lebih baik, lebih dihargai dan lebih dicintai.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Overthinking

Nyaman

"Kurang Lebih" dan Politik