Mental Haimanah

Dari sekian banyak budaya dan aturan tertua dan terbesar di dunia, budaya Chinalah salah satu yang masih berdiri hingga kini.

Budaya dan aturan adalah komponen untuk berkuasa, sayangnya kini China tidak berkuasa. Padahal pecinan dimana-mana, padahal barongsai menari dimana-mana.

China pernah berkuasa ketika raja yang bertahta memiliki mental melindungi dan mengayomi, dan saat itu masyarakatnya juga memiliki mental mengayomi.

Khilafah pernah bersentuhan dengan kekuasaan China.

Dan saat itu yang membuat China tetap besar bersama dengan kebesaran Khilafah adalah sama-sama memiliki mental mengayomi dan melindungi, mental haimanah.

Jepang sebelumnya pernah memulai dengan berusaha menguasai Asia dan menciptakan ikon hero pelindung dunia.

Ikon hero Jepang mungkin terpatri dalam dada pemuda Asia, tetapi itu hanya sebatas hayalan.

Tidak dengan negara pencitra ikonnya.

Amerika dan Eropa juga berusaha menjadi  pengayom bagi masyarakat dunia, pengatur dunia, dan pelindung dunia.

Mental mengayomi juga terus ditanamkan dalam dada masyarakatnya.

Setidaknya dalam dada pegiat seninya, dengan heronya seperti yang Jepang lakukan.

Bedanya, masyarakat dunia mencoba membuka pintu harapan kepada Amerika dan Eropa untuk menjadi pengayom.

Turki dan masyarakatnya juga sedang mencoba mengayomi dunia, memulainya dengan mental haimanah.

Menerima ribuan pengungsi Syuriah dan mencoba menyelesaikan permasalahan Palestina dan dunia yang tak kunjung selesai, salah satunya kemiskinan, dengan menjadi pemberi zakat dunia.

Indonesia, pernah mencoba menjadi pengayom dunia. Dulu.

Membentuk nonblok agar negara ketiga tetap bisa berdiri, agar negara terjajah diperjuangkan kemerdekaannya.

Masyarakat Indonesia pun meski dalam kemiskinan memiliki jiwa pengayom yang kuat saat itu. Kini?!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Overthinking

Nyaman

"Kurang Lebih" dan Politik