Kebebasan Pandangan Politik Perempuan
Selalu ada cerita tentang perempuan pada masanya. Entah itu yang tangguh, cerdas, ataupun beriman. Entah itu dalam bersosial ataupun dalam berpolitik.
Ada Masyithah, tukang sisir keluarga Firaun yang beriman kepada Allah. Ia adalah contoh perempuan yang mempunyai keberanian luar biasa menghadapi penguasa. Masyithah adalah perempuan yang beriman dengan pilihan politik yang jelas, menolak kebatilan.Ada Fatimah binti Khattab adik Umar bin Khattab r.a. yang lebih dulu beriman kepada Allah dibanding kakaknya Umar singa padang pasir yang ditakuti musuh dan setan. Fatimah mengantarkan kakak laki-lakinya kepada keimanan kepada Allah. Fatimah adalah contoh perempuan yang memiliki nurani tinggi terhadap kebenaran. Dia tidak ragu mengambil kebenaran, dia berani mengambil kebenaran. Dan dia juga berani menyampaikan kebenaran terlebih kepada keluarga dekatnya, meskipun kedudukannya dipandang tidak lebih tinggi dari orang yang disampaikannya.
Ada Aisyah ummahatul mu’minin. Perempuan cerdas yang menjadi rujukan hadist Rosul. Aisyah adalah contoh perempuan cerdas yang berani berdiri didepan menyampaikan kebenaran dihadapan laki-laki ataupun perempuan dengan segala konsekuensi sosial politik yang tentunya sudah ia pahami.
Dan masih banyak lagi kisah perempuan yang tak kan habis bila saya sebutkan semuanya satu persatu disini.
Di Indonesia ada Kartini, perempuan berani yang mempunyai kecerdasan dan wawasan politik yang luas. Dan itu semua tentunya karena dukungan suaminya yang menyadari betul bahwa istrinya bukan hanya miliknya, tapi juga milik bangsa dan agamanya.
Perempuan dengan keberanian dan kecerdasan politik bukanlah cerita baru. Perempuan dengan kebebasan pandangan politik juga bukan cerita baru. Perempuan-perempuan dengan keberanian dan kecerdasan politik itu akan selalu jadi pengingat kita bahwa perempuan juga punya peran dalam bersosial dan berpolitik.
Yang menjadi dilema kini adalah ada perempuan-perempuan dengan pandangan politik yang luas terbentur dengan keterbatasannya sebagai istri atau mungkin sebagai seorang anak. Ada banyak perempuan cerdas yang akhirnya hanya bisa diam mengabaikan naluri politiknya ketika berhadapan dengan suami dan keluarga yang tidak sependapat dengannya. Pada perempuan-perempuan ini kebebasan politik tidak menjadi pilihannya.
Dilema ini merupakan kemunduran perempuan dengan segala kelebihan yang diberikan Allah kepada setiap hambaNya. Dilema ini merupakan keresahan zaman. Kesadaran bahwa perempuan juga memiliki naluri kebenaran, kecerdasan dan kebebasan pandangan politik tersebut harusnya kita dukung bersama, agar perempuan seperti seharusnya berada ditempatnya, sebagai tiang peyangga dan pendamping laki-laki.
Komentar
Posting Komentar