Merdeka Berpolitik

Di negara yang berasaskan Pancasila yang menaungi semua ideologi yang ada, tentunya rakyat Indonesia merdeka berpolitik, karena negara kita adalah negara demokrasi.

Kebebasan berpolitik tersebut sempat terjadi di masa awal kemerdekaan bangsa kita, sangat demokratis, dinamis, bertebaran cara pandang pemikiran politik dimana-mana, dengan berbagai konsep dan arah.

Meski saat itu perut kelaparan dan rakyat dalam lilitan kemiskinan, tapi tak menghentikan laju pergerakan politik di tengah bangsa kita.

Fenomena tersebut menggambarkan bahwa para pemimpin bangsa saat itu mempunyai cara pandang yang terbuka untuk memberikan kesempatan pada konsep apapun dan pada siapapun untuk membawa arah bangsa.


Syarekat Islam

Salah satu konsep pergerakan yang hadir dan dibentuk di Indonesia adalah Syarekat Islam (SI).

Ada banyak tokoh pemuda dalam SI, dan seiring berkembangnya kajian para penggerak dan pemikir di SI, maka terjadilah perbedaan-perbedaan pandangan.

Seperti yang dipahami oleh para penggerak, perbedaan cara pandang dan perluasan pergerakan adalah keniscayaan sebuah organisasi. Atau malah justru kemajuan sebuah organisasi.

Begitupun dengan SI yang terjadinya perbedaan cara pandang antara tokoh-tokoh di dalamnya.

Tan Malaka, tokoh SI, seorang muslim, lahir di negeri bersandi syariat, Minangkabau, lahir dan besar dengan tuntunan agama, di tengah masa pemikiran dan kritiknya terhadap bangsa dan pribadi setiap orang dalam organisasi SI, Tan memandang bahwa saatnya ia membentuk organisasi yang baru yang tepat untuk Indonesia, sekali lagi, sebuah pergerakan yang tepat menurutnya, dengan sebuah perpaduan dan pengembangan yang sesuai untuk bangsa Indonesia, akan tetapi bukan sebuah ideologi agama, karena ideologi agama Tan tetaplah Islam. Karena dia seorang Muslim.

Seperti yang pernah ia sebutkan dalam Konferensi komunisme Internasional, Tan dengan lantang menyatakan,"Ya, saya katakan, ketika saya berdiri di depan Tuhan saya adalah seorang Muslim, tapi ketika saya berdiri di depan banyak orang saya bukan seorang Muslim, karena Tuhan mengatakan bahwa banyak iblis di antara banyak manusia.”


Komunisme

Tan berfikir saat itu adalah saat yang tepat untuk membentuk pergerakan baru, dan sebuah pergerakan massa yang tepat dalam sistem negara kita adalah membentuk partai politik, maka Tan dan beberapa temannya mendirikan Partai Komunis(me) Indonesia.

Kondisi bangsa yang masih baru dalam pendirian, tekanan luar negeri yang sedang dalam masa perang membuat bangsa kita malah menjadi collateral damage di tengah pertarungan ideologi pergerakan dan pertarungan para penguasa dunia, menjadikan banyak cara pandang pergerakan yang berdiri di tengah bangsa kita menjadi tidak bisa berkembang luas.

Seperti itu juga yang terjadi dengan Komunisme yang didirikan oleh Tan dan teman-temannya.

Kritik Karl Marx, terhadap agama yang dimanfaatkan para individu pemuka yang feodalis, di jadikan senjata ampuh oleh para kontrais Tan, untuk mengadu domba dengan para pemuka di tengah bangsa ini.

Meski Mohammad Hatta, tidak terpancing dalam adu domba tersebut, karena Hatta yang Muslim, sesama anak Minang, seorang pemikir bangsa, pemerhati bangsa, tokoh bangsa, namun tidak pernah mengkritik tokoh-tokohnya bahwa PKI adalah partai yang anti tuhan, nyatanya hal tersebut luput dari perhatian banyak pihak sebagai sebuah kenyataan bahwa gaung PKI yang anti tuhan merupakan sebuah adu domba.

Hingga kini, pernyataan bahwa PKI anti tuhan, bahwa bangsa kita yang ber agama akan rusak oleh Komunisme, belum juga surut.

Gus Dur, seorang dai yang berpemikiran terbuka, yang ingin menyatukan anak bangsa dari pembelahan ideologi pergerakan dan adu domba penguasa dunia, pernah mengusulkan mencabut Tap MPR terkait PKI, namun tidak berhasil.


Merdeka Berpolitik

Seiring waktu, pergantian pemimpin bangsa, perjalanan para pemikir bangsa juga terus berdatangan, hingga hari ini.

Seperti yang saya sampaikan di atas, sebuah sunatullah dalam organisasi adanya perbedaan cara pandang dan perluasan sebuah pergerakan.

Begitupun dengan pemikiran anak bangsa, semakin terbuka, semakin mencoba menggali pergerakan yang tepat untuk negeri ini, kemajuan bangsa ini.

Tentunya bebas-bebas saja. Karena negara kita negara demokrasi. Merdeka berfikir. Merdeka berpolitik.

Semangat merdeka, merdeka berfikir, merdeka berpolitik, pulih lebih cepat, bangkit lebih kuat, Agustus 2022.


Oleh: Lenny Hamdi


Sumber:

-Berbagai sumber

-kompasiana

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Overthinking

Nyaman

"Kurang Lebih" dan Politik