Silaturahmi dan Hari Pendidikan Nasional
Saya tertegun mendengar cerita seorang senior yang memaksa silaturahmi kepada gurunya.
Sebegitu hormatnya seperti seharusnya dan layaknya seorang murid kepada gurunya yang menjaga silaturahmi.
Saya mencoba mereka-reka.
Mungkin gurunya tersebut adalah memang pemberi tauladan, pemberi dorongan dan masukan juga pembangun kemauan dalam hidup dan kehidupan senior saya itu.
Mungkin juga tidak.
Karena menyambung silaturahmi memang adalah kewajiban seorang muslim, harusnya.
Yang membuat saya semakin tertegun, ternyata senior saya tersebut mengambil jalan yang berbeda, sebut saja begitu, dengan gurunya tersebut.
Namun, perbedaan jalan yang membuat sang guru tak mau bertemu nyatanya tak membuat sang murid, senior saya itu, untuk menyerah mencoba menyambung silaturahmi, untuk mencoba menyampaikan bahwa kita hanya beda lembaga.
Diakhir cerita, sang guru sudah aman kembali dengan muridnya, senior saya itu. Silaturahmi kembali terjalin.
Senior saya tersebut berhasil meletakkan gurunya pada tempatnya, sebagai orang yang dia hormati.
Menyambung silaturahmi, yang dibaca dengan memulai menjalin lebih dulu silaturahmi, memang tidak mudah.
Pertikaian duniawi, sebut saja begitu, pada kenyataannya membuat kita selalu buta dan merasa bahwa kita tidak salah, dia yang salah, yang pada ujungnya membuat kita menjadi pemutus silaturahmi.
Entah dengan keluarga, teman, ataupun guru.
Keinginan untuk mencoba memulai menjalin kembali silaturahmi memang nampak berat.
Seberat masalah yang membuat kita terpisah dalam silaturahmi.
Padahal masalahnya tidak berat-berat amat. Hanya masalah duniawi, tidak lebih.
Masalah guru yang berbeda pandangan dengan murid.
Masalah guru yang berbeda lembaga dengan murid.
Masalah teman yang memilih beda lembaga dengan temannya yang lain.
Masalah keluarga yang mempunyai pilihan yang berbeda terhadap harta warisan yang masing-masing dapati.
Hanya masalah duniawi.
Namun menjadikan kita terancam tidak masuk surga.
Bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, dan bertepatan dengan bulan Syawal, mari kita menyambung silaturahmi.
Setiap kita tentu punya guru dalam hidup, namun masalah duniawi mungkin membuat kita menjadi jauh, mari kita hampiri, sambung silaturahmi.
Setiap kita tentu punya teman dekat dalam hidup, namun masalah duniawi mungkin membuat kita menjadi jauh, mari kita hampiri, sambung silaturahmi.
Setiap kita tentu punya keluarga dalam hidup, namun masalah duniawi mungkin membuat kita menjadi jauh, mari kita hampiri, sambung silaturahmi.
Persoalan duniawi yang berbeda tak perlu menjadi penghalang.
Seperti halnya Bung Karno yang percaya Buya Hamka adalah guru dan teman yang baik dalam agama, seperti itu juga yang dilakukannya dalam menyambung silaturahmi, menitipkan anaknya belajar tanpa memandang masalah duniawi.
Selamat Hari Raya 2022/1443 H, selamat Hari Pendidikan Nasional 2022.
Komentar
Posting Komentar