Pemilihan Kata

Menyebutkan kata, ternyata memang ada pilihannya, terlebih dalam pembelajaran anak.

Kemarin saya menanyakan kepada anak saya yang masih bersekolah dasar kelas 5, apa soal dalam ulangan Pendidikan Agama yang tidak bisa dijawabnya. Katanya, dia tidak tahu apa arti kikir.

Saya lantas berfikir, dirumah, kami memang tidak pernah menggunakan kata itu, kikir.

Bukankah pembelajaran akan lebih masuk dalam kepala bila kita menyampaikannya juga dalam kehidupan sehari-hari, dan kata kikir  bukanlah pilihan yang tepat menurut saya untuk disampaikan kepada anak dalam pembelajaran sehari-hari.

Saya mencoba membayangkan, kalimat apa yang kira-kira bisa saya lontarkan kepada anak saya dengan kata kikir.

“Kita tidak boleh jadi orang yang kikir?” begitukah?

Atau, "Orang kikir akan dibenci oranglain?" begitu?

Mengucapkan kata, terlebih untuk pembelajaran, tentunya dengan tujuan untuk menyampaikan nilai positif sesuai maksudnya yang diharapkan akan dipahami oleh para pembelajar.

Dan menjadikan kata kikir dalam pembelajaran, menurut saya bukanlah pilihan yang tepat jika nilai yang diharapkan adalah nilai positif sebagai anak atau orang yang baik adalah anak atau orang yang tidak kikir.

Bukankah akan lebih baik bila saya mengucapkan, “Kita harus menjadi orang yang dermawan.”

Terdengar lebih indah di telinga dan dicerna hati juga lebih menenangkan di olah kepala.

Dan pembelajaran tentang kikir menurut saya bukanlah pembelajaran yang tepat untuk anak sekolah dasar. Anak sekolah dasar cukup diajarkan perilaku baik, bukan menjudge dengan kata-kata buruk.

Saya teringat bagaimana reaksi pertama anak saya sewaktu masih sekolah dasar tingkat awal ketika dia menonton film Upin Upin yang menceritakan kisah penggembala yang berbohong tidak akan dipercaya lagi berserta hukuman yang ia dapatkan karena berbohong. Saat itu mata anak saya terkejut sangat takut.

Jika film itu malah dijadikan pembelajaran tentang kata bohong, menurut saya itu pembelajaran yang sangat mengerikan untuk anak usia dini agar menjadi anak yang jujur.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Overthinking

Nyaman

"Kurang Lebih" dan Politik