Menuntut Tanggungjawab Orangtua

Menyikapi kejadian tragis seorang ibu menggorok ketiga anaknya membuat saya berfikir bahwa betapa sulitnya menjadi orangtua, terlebih menjadi orangtua yang bertanggungjawab. Dan karena sulitnya menjadi orangtua yang bertanggungjawab, jika mengaitkan dengan keimanan, tidak ada dalil dalam Quran yang menyebutkan akan kemurkaaan Allah ketika  ada orangtua yang tidak bertanggungjawab.

Alih-alih mewajibkan orangtua untuk bertanggungjawab, Allah justru mewajibkan sang anak yang berbakti kepada orangtua, tanpa excuse, seperti apapun orangtua kita. Paling jauh yang bisa kita lakukan sebagai anak adalah ketika orangtua kita mengajak kemungkaran kita janganlah mengikuti, sekali lagi hanya jangan ikuti, bukan menghakimi.

Dan tanpa mengesampingkan Hadist, kewajiban orangtua yang jelas di Quran hanyalah surat Al-Baqarah ayat 233, itupun untuk memberi nafkah dan pakaian masih ditambahi dengan kata, janganlah seorang ayah menderita karena anaknya. Sangat simpel ditengah “tuntutan kewajiban” yang kita anggap penting dan sangat perlu dipenuhi orangtua terhadap anaknya.

Berurusan dengan Allah

Jika dalam kehidupan kita mengenal timbal balik antara memberi kebaikan dengan menerima kebaikan, tidak halnya dengan urusan kewajiban orangtua.

Bahwa kewajiban yang Allah tetapkan kepada orangtua hanyalah urusan orangtua tersebut dengan Allah. Anak tidak berhak memintanya.

Ini bukan perputaran timbal balik tiga pihak; yang Allah mewajibkan, orangtua diberi kewajiban, dan anak berhak mendapatkan kewajiban. Bukan. Ini tentang hal yang terpisah, kewajiban orangtua berurusan dengan Allah. Hak anak berurusan dengan Allah. Setiap kita berurusan hanya dengan Allah. Karena ini kewajiban, bukan muamalah. Karena jika ini muamalah urusannya manusia dengan manusia. Dan berbakti kepada orangtua bukan muamalah.

Ibu Menggorok Anaknya

Kejadian seorang ibu yang menggorok anak-anaknya, terlepas dengan keimanan dan keilmuannya, apalagi kejiwaannya adalah bukti betapa sulitnya menjadi orangtua.

Penuh peluh, beban dan kesakitan, namun bukan untuk dirinya, melainkan untuk seorang anak. Sekali lagi, ini tanpa membahas keimanan.

Melepaskan kesenangan dirinya, lalu mengutamakan anaknya diatas kepentingan dirinya, adalah sebuah usaha yang tidak semua orang bisa melakukannya. Meski dengan pertalian darah sekalipun.

Dan ketika tuntutan dari lingkungan begitu besar, seakan-akan ibu tersebut tidak becus menjalankan kewajibannya, bisa menjadikan seseorang lepas kendali.

Seorang Istri yang Dituntut Lebih dari Sekedar Patuh

Kejadian seorang ibu yang menggorok anak-anaknya menjadi pelajaran bagi kita bahwa, seorang ayah  yang kewajibannya banyak dituntut dibandingkan seorang ibu yang tidak ada kewajibannya seperti yang disebutkan Quran hanyalah disarankan menyusui, itupun disebutkan Quran tidak berdosa jika tidak melakukannnya, ternyata di negeri ini yang notabene dominan Islam, malah seorang ibu “dituntut kewajiban” melebihi kapasitasnya.

Karena memang fenomena yang umum kita dapati di negeri ini, anggaplah bentuk muamalah ayah terhadap keluarga, namun nyatanya memang jauh panggang dari api.

Saya teringat seorang kakak perempuan jauh saya, anggaplah begitu, yang berkata bahwa, di negara yang notabene Islam dominan ini, dimana laki-laki dituntut masyarakatnya dengan kewajibannya nyatanya memang menjadi fenomena yang lazim “tidak bertanggungjawab”. Itu sebabnya, menurut kakak perempuan saya itu, menikah dengan orang luar negeri yang memiliki “muamalah keluarga” yang tinggi, yaitu Jepang, yang menjadi pilihannya.

Dan sepertinya, Jepang yang notabene tidak beragama, nyatanya lebih menjaga “muamalah keluarga.”

Seorang Anak yang Berbakti

Ditengah fenomena ayah yang “tidak bertanggungjawab” dan ibu yang terbebani semua tanggungjawab keluarga, seharusnya seorang anak tidaklah berhak menuntut haknya kepada orangtua dengan dalih agama.

Seperti yang sudah tertuang dalam Quran bahwa kewajiban hanya dibebankan kepada anak agar berbakti kepada orangtua, begitulah seharusnya yang anak lakukan. Namun anak tidak berhak menuntut orangtua terhadap tanggungjawabnya.

Biarlah Allah yang menyelesaikan urusan perorangan tersebut di dunia ataupun di akhirat. Bukankah kita sepakat Allah Maha Adil.

Tuhan Yang Adil

Dan jika kita bicara tentang keadilan, tentunya Allah sudah cukupkan kita, hanyalah tinggal kita yang bersyukur.

Mengapa kita tidak perlu menuntut muamalah orangtua, karena segala yang kita tuntut sebenarnya sudah Allah penuhi, meski bukan kita dapatkan dari orangtua kita. Jangan berkecil hati karena tidak mendapatkan hak tersebut dari orangtua kita, toh semua adalah ketentuan Allah. Karena hidup tak selalu suram, karena bersama kesulitan ada kemudahan. Sekali lagi, karena Allah Maha Adil.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Overthinking

Nyaman

"Kurang Lebih" dan Politik