Postingan

Kebenaran Umum Di Sekitar Kita Tidak Selalu Benar

Dalam budaya orang Minang, harta diturunkan kepada perempuan. Dimata masyarakat lain di Indonesia hal ini mungkin tidak biasa. Yang tidak setuju dengan konsep Minang ini mungkin bahkan sampai menyebutkan ayat Quran. Berfikir mungkin orang Minang kurang belajar agama. Sebuah kutukan Malin Kundang yang menjadi batu membuat saya berfikir, mungkin kisah tersebut yang mengilhami orang Minang bahwa laki-laki jika mempunyai harta lupa akan ibunya, hanya sibuk dengan istri dan keluarga barunya. Yah, kebenaran umum disekitar kita, tidak selalu benar. Manusia berevolusi dari kera. Entah berapa lama teori ini bertahan. Yang mengalami jejalan teori evolusi saat itu hanya menerima. Apa mau dikata, guru yang mengatakan. Kebenaran umum di sekitar kita, tidak selalu benar. Nabi Khidir melubangi kapal, membunuh anak kecil, membangun rumah yang hampir roboh. Hal tersebut membuat Nabi Musa murka dan tidak hentinya terus menanyakan alasan dibalik itu karena yang dilakukan Nabi Khidir sangat tidak umum. Ka...

Hilangnya Rasa

Hilang rasa merupakan titik terendah dari manusia yang hanya menggunakan pikirannya. Jika seseorang hilang rasa, maka dia tidak akan menggunakan sedikitpun perasaannya ketika berhadapan dengan orang lain. Anehnya orang hilang rasa, perasaannya sensitif sangat, orang lain dianggap salah saja berucap dengannya, Bernengara juga perlu rasa. Jika kita benegara tanpa rasa maka kita akan membawa negara ini penuh logika gila. Menghina sisi lain, seperti agama, dianggap biasa. Beragama jika hilang rasa pun akan menjadi dua pilihan yang tidak manusiawi, menjadi seperti malaikat atau seperti setan. Seperti malaikat karena akan jadi hambar, tanpa cinta kepada Tuhannya. Tak merasa manisnya iman. Hanya patuh saja tanpa logika. Dibuangnya akal sendiri. Jangan dikira setan pun tak beragama. Dia tahu siapa Tuhannya. Tapi hanya merasa untuk dirinya sendiri. Sombong bukan kepalang. Begitu pun manusia hilang rasa kepada oranglain.

Menuntut Tanggungjawab Orangtua

Menyikapi kejadian tragis seorang ibu menggorok ketiga anaknya membuat saya berfikir bahwa betapa sulitnya menjadi orangtua, terlebih menjadi orangtua yang bertanggungjawab. Dan karena sulitnya menjadi orangtua yang bertanggungjawab, jika mengaitkan dengan keimanan, tidak ada dalil dalam Quran yang menyebutkan akan kemurkaaan Allah ketika  ada orangtua yang tidak bertanggungjawab. Alih-alih mewajibkan orangtua untuk bertanggungjawab, Allah justru mewajibkan sang anak yang berbakti kepada orangtua, tanpa excuse, seperti apapun orangtua kita. Paling jauh yang bisa kita lakukan sebagai anak adalah ketika orangtua kita mengajak kemungkaran kita janganlah mengikuti, sekali lagi hanya jangan ikuti, bukan menghakimi. Dan tanpa mengesampingkan Hadist, kewajiban orangtua yang jelas di Quran hanyalah surat Al-Baqarah ayat 233, itupun untuk memberi nafkah dan pakaian masih ditambahi dengan kata, janganlah seorang ayah menderita karena anaknya. Sangat simpel ditengah “tuntutan kewajiban” y...

Pemilihan Kata

Menyebutkan kata, ternyata memang ada pilihannya, terlebih dalam pembelajaran anak. Kemarin saya menanyakan kepada anak saya yang masih bersekolah dasar kelas 5, apa soal dalam ulangan Pendidikan Agama yang tidak bisa dijawabnya. Katanya, dia tidak tahu apa arti kikir. Saya lantas berfikir, dirumah, kami memang tidak pernah menggunakan kata itu, kikir. Bukankah pembelajaran akan lebih masuk dalam kepala bila kita menyampaikannya juga dalam kehidupan sehari-hari, dan kata kikir  bukanlah pilihan yang tepat menurut saya untuk disampaikan kepada anak dalam pembelajaran sehari-hari. Saya mencoba membayangkan, kalimat apa yang kira-kira bisa saya lontarkan kepada anak saya dengan kata kikir. “Kita tidak boleh jadi orang yang kikir?” begitukah? Atau, "Orang kikir akan dibenci oranglain?" begitu? Mengucapkan kata, terlebih untuk pembelajaran, tentunya dengan tujuan untuk menyampaikan nilai positif sesuai maksudnya yang diharapkan akan dipahami oleh para pembelajar. Dan men...

Tujuan Kita Bernegara?

Terus mencoba memahami bangsa kita yang sangat majemuk ternyata sangatlah menguras pikiran dan waktu yang panjang. Entah berapa banyak pertikaian yang terjadi di tengah-tengah bangsa kita yang pangkalnya hanyalah karena ketidakterimaaan salah satu pihak terhadap keberadaan pihak lain di negara ini. Masing-masing kita merasa mempunyai hak yang lebih daripada yang lain, saling mengklaim. Dan jika klaim tersebut tidak diterima pihak yang lain, kita akan membawanya kedalam pertikaian. Saling caci, saling melawan, saling menjatuhkan, saling menyakiti secara verbal bahkan fisik.   Kita menghadapi hari-hari yang selalu gaduh, menyesakkan jiwa menatap bangsa ini. Kita seperti orang yang hanya mencoba mengisi waktu luang tanpa tujuan yang jelas bagi bangsa ini, yang penting ramai, tentunya dengan menjual simbol-simbol.   Kita menjadi masyarakat di negara yang tidak punya tujuan. Kita terlupa tujuan kita bernegara.   Jika kita mengingat tujuan kita bernegara, tentu kita tidak akan ...