Revolusi Memakan Anaknya Sendiri
Kalimat tersebut entah mulai kapan dipopulerkan dan entah siapa yang mengucapkannya, tapi hingga hari ini kalimat tersebut tetap menjadi sebuah kenyataan yang terus berulang. Para pemula atau orang yang sedari awal adalah pencetus ide, penggerak paling depan, penyampai suara paling keras, nyatanya ditelan oleh revolusi yang ia atau mereka gaungkan sendiri. Ditelan dengan berbagai cara, mulai dari yang paling mudah atau halus lalu menyingkir dengan sendirinya sampai dengan cara keras yang melibatkan banyak orang, yang belum tentu paham keadaan yang terjadi, untuk menjatuhkan bahkan menyelesaikan atau mengakhiri hidup para revolusioner tersebut. Yang tidak jarang kisahnya berakhir dengan hina. Fenomena yang terjadi biasanya adalah teman seiring (dibaca: lawan politik) yang sedari awal hanya mengekor menunggu momen untuk menjatuhkan para revolusioner, dengan membangkitkan perselisihan-perselisihan yang telah lama dilupakan yang biasanya memuaskan beberapa kebutuhan yang tak-sadar, sebuah ...