Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2023

Revolusi Memakan Anaknya Sendiri

Kalimat tersebut entah mulai kapan dipopulerkan dan entah siapa yang mengucapkannya, tapi hingga hari ini kalimat tersebut tetap menjadi sebuah kenyataan yang terus berulang. Para pemula atau orang yang sedari awal adalah pencetus ide, penggerak paling depan, penyampai suara paling keras, nyatanya ditelan oleh revolusi yang ia atau mereka gaungkan sendiri. Ditelan dengan berbagai cara, mulai dari yang paling mudah atau halus lalu menyingkir dengan sendirinya sampai dengan cara keras yang melibatkan banyak orang, yang belum tentu paham keadaan yang terjadi, untuk menjatuhkan bahkan menyelesaikan atau mengakhiri hidup para revolusioner tersebut. Yang tidak jarang kisahnya berakhir dengan hina. Fenomena yang terjadi biasanya adalah teman seiring (dibaca: lawan politik) yang sedari awal hanya mengekor menunggu momen untuk menjatuhkan para revolusioner, dengan membangkitkan perselisihan-perselisihan yang telah lama dilupakan yang biasanya memuaskan beberapa kebutuhan yang tak-sadar, sebuah ...

Valentine dan Feodalisme

Sejarah Hari Valentine Hari Valentine ( Valentine's Day ) atau disebut juga hari kasih sayang, dirayakan tiap tanggal 14 Februari. Penetapan tanggal tersebut berasal dari Hari Pesta (perayaan Liturgi dalam Gereja Katolik) penganut agama Kristen yang menghormati satu atau dua martir agama Kristen bernama Santo Valentinus dan, melalui tradisi rakyat, menjadi perayaan percintaan yang signifikan dalam budaya, agama, dan komersil di banyak bagian dunia. Ada beberapa kisah martirdom (kesyahidan dalam Islam) yang diasosiasikan dengan berbagai Santo Valentinus yang terkait dengan 14 Februari, termasuk catatan pemenjaraan Santo Valentinus di Roma karena melayani orang Kristen yang ditindas oleh Kerajaan Romawi pada abad ke-3. Menurut tradisi kuno, Santo Valentinus mengembalikan penglihatan anak perempuan dari pemenjaranya. Penambahan-penambahan ke legendanya lebih mengaitkannya ke tema percintaan: pembubuhan legenda pada abad ke-18 mengklaim bahwa dia menulis surat ke anak perempuan pemenja...

Berlapangdada

Sebelumnya, selama ini, saya selalu membatasi pikiran saya dalam menerima ilmu. Meski rajin melanglang jalan, menuntut ilmu dari satu kajian ke kajian lain, ilmu ternyata tak bertambah. Karena apa? Karena saya selalu menempatkan saringan dalam kepala saya. Ilmu ini harus disaring. Orang ini harus disaring. Tempat ini harus disaring. Buku ini harus disaring. Lingkungan ini harus disaring. Pertemanan ini harus disaring. Grup ini harus disaring. Semua harus disaring. Saya tidak habis fikir, kenapa ketika seorang teman pernah berkata, ketika kita akan keluar menghadapi orang, bacalah doa رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي  Kemana saja saya selama ini. Bukankah saya sudah lama mengetahui ilmu itu, kenapa tidak masuk ke kepala saya. Lalu saya tersadar, ternyata ketidaklapangan dada saya membuat saya membatasi pikiran saya dan menutup hati saya. Ketidaklapangan dada saya membuat saya menyaring segalanya. Dengan saringan yang tidak jelas bentuknya, ketakutankah, kesombongankah, atau mungkin juga ke...